BENARKAH ALLAH BERADA DI LANGIT ?

Belakangan semakin tersebar luas pemahaman kaum salafi/wahabi di kalangan umat Islam. Diantara paham mereka yang sangat berbahaya adalah dengan keyakinan yang menyamakan makhluq dengan Allah, Al Khaliq. Mereka mengklaim Allah berada di atas `arsy, atau berada di atas langit, artinya Allah butuh kepada makhluqNya. Jikalau diantara kita ada yang meyakini hal tersebut, sekali-kali cobalah untuk mengkritisi keyakinan tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan berikut :

1. Allah bersifat wajib al wujud (mesti bersifat Wujud). Wujud Allah bukan disebabkan dan tidak dipengaruhi oleh apapun selain Allah. Maksudnya, adanya Allah bukan diadakan dan tidak dipengaruhi oleh siapapun, karena Allah bersifat Qadim. oleh karena itu tidak tepat bila diyakini keberadaan (wujud) Allah dipengaruhi oleh tempat, waktu, dll. dari makhluq Allah.

2. Ketika kita mengatakan bahwa Allah berada di atas langit atau berada di atas `arsy itu artinya ada sesuatu selain Allah yang sudah ada sebelum atau bersamaan dengan adanya Allah. Bukankah Allah yang Maha Pencipta dan semuanya ada setelah Allah menciptakan?! Di lain sisi, jikalau kita katakan bahwa Allah berada di atas `arsy atau di atas langit, itu artinya sifat Allah berubah dengan ‘pengaruh’ adanya makhluq Allah, berarti Allah butuh kepada makhluqNya!

3. Apabila dikatakan Allah berada ‘diatas’ langit atau di atas `arsy, itu artinya Allah butuh kepada makhluq Allah untuk berdiam diri. Ini tentu saja bertentangan dengan logika sehat manusia, karena Allah tidak butuh kepada makhluqNya, beda dengan makhluqNya yang sangat butuh kepada Allah. Ini akan menyebabkan kita menafikan sifat Allah yang memiliki sifat qiyamuhu bi nafisihi (berdiri sendiri). Padahal kita meyakini bahwa Allah memiliki sifat Ghaniy, kaya dengan ZatNya dan tidak butuh kepada selainNya, sedangkan selain Allah justru butuh kepada Allah.

4. Arah ‘atas’ itu berarti semua yang berada di atas kepala kita, sedangkan arah ‘bawah’ adalah semua yang berada di bawah kaki kita. Arah ‘kanan’ adalah semua arah yg berada di posisi kanan dari badan kita, begitu juga dengan arah ‘kiri’, ‘belakang’ dan ‘depan’. Enam arah yang dikenal manusia semuanya bersifat nisbi, tidak tetap akan tetapi bisa berubah-berubah berdasarkan posisi kita memandangnya. Semua orang meyakini bahwa bumi kita ini adalah bulat. Jikalau dikatakan Allah berada di arah atas, itu artinya di atas dari posisi orang yang mengklaimnya, apakah juga demikian dengan orang lain yang berada di bagian bumi yang berbeda dengan kita? Jikalau orang-orang di wilayah Timur mengatakan Allah berada di arah atas, itu artinya Allah berada di arah bawah bagi orang-orang yang berada di wilayah Barat. Sebaliknya juga demikian. Begitu juga halnya dengan orang-orang yang berada di posisi Utara dan selatan. Berarti tidak bisa dikatakan Allah berada di satu tempat, posisi dan arah, yaitu Atas! Semua arah itu bisa ditentukan bukankah ketika alam sudah ada dan penduduk alam sudah ada. Kemudian mereka mengenal arah atas, bawah, depan, belakang, kanan dan kiri?! Nah pernyataan ini perlu dikritisi, ketika shalat, kenapa kita menghadap kiblat yang menuju arah Ka`bah, kenapa tidak ke atas? Saat haji dan umrah kenapa justru menuju Ka`bah, kenapa tidak menuju langit dan `arsy yang berada di atas? Saat sujud dalam shalat, kita bersujud ke arah bumi, kenapa kita menghinakan wajah kita ke bumi, kok tidak sujud ke arah atas ?!

Dari semua realita ini menunjukkan bahwa Allah tidak berada di arah atas atau mesti berada di arah tertentu, karena Allah tidak butuh tempat, posisi dan arah manapun! "Zat yang menyebabkan adanya pertanyaan "aina (dimana)" tidak ditanyakan kepadaNya, "dimana?" dan Zat yang menyebabkan adanya pertanyaan "kaifa   (bagaimana)",  tidak ditanyakan kepadaNya, "bagaimana?" Anda pun tidak usah bingung dengan jawaban kita sendiri, bukankah kita punya akal tapi kita tidak tahu dimana adanya akal kita? Bukankah kita punya ruh, tapi kita tidak tahu dimana adanya ruh kita?! Tapi akal dan ruh ada di dalam diri kita dan wajib kita imani keberadaannya!

Dari pemaparan diatas jelaslah bagi kita bahwa Allah Maha Sempurna, Maha Indah, Maha Kaya, Maha segala-galanya dan Berbeda dengan makhluqNya. Zat Allah tidak sama dengan apapun yang pernah terlintas di dalam logika manusia. Oleh karena itu yakinilah bahwa Allah itu ada dan berbeda dengan semua yang terlintas di fikirkan kita. Dan yakinilah bahwa bukan tugas kita untuk memikirkan zat Allah, akan tetapi kita hanya diperintahkan untuk memikirkan dan merenungi ciptaan Allah.

Pada akhirnya akuilah bahwa kita adalah lemah dan tidak ada apa-apa di sisi Allah. Keterbatasan akal kita untuk mengetahui hakikat Allah membuktikan bahwa kita adalah orang-orang yang berakal. Pengakuan kita bahwa kita tidak bisa mengenal hakikat Allah merupakan bukti keimanan kita kepada Allah. The truth is still the truth, even if you deny it or ignore it! Qiyamuhu bi nafisihi: Allah Maha Berdiri Sendiri, tidak butuh kepada selain diriNya.

_________________________________________________________

ARTIKEL TERKAIT



 

Copyright 2010 - 1431 H | * ALL ABOUT WAHHABI * | Who Is The Wahhabi Actually | Designed by DS | ASWAJA

© SAY NO TO WAHHABI