INFO

ARUS DANA WAHABISASI GLOBAL

Bahwa bahaya penyebaran paham formalisasi agama dan pemaksaan ideologi ini semakin merebak karena didukung dengan sumber dana yang kuat serta penyusupan yang sudah terencana. Usaha-usaha penyusupan  secara finansial  ini banyak dilakukan kepada orang-orang ‘terkemuka’ yang diduga bisa ‘dibeli’. Apalagi jika orang tersebut adalah salah satu pejabat negara, atau bahkan seorang ‘ulama’ yang memang tergoda ingin menikmati dana tersebut karena tergiur dengan jumlahnya yang cukup fantastis hingga rela menjadi saluran penyebaran ideologi ini. Dan inilah salah satu penyebab utama perubahan ideologi dan politik di Indonesia masa sekarang. Inilah bentuk intervensi mereka terhadap bangsa Indonesia yang oportunis dan korup, ulama kembaran ‘barshisha’ dan kebodohan muslim Indonesia, sehingga orang-orang seperti ini ada yang sadar dan tidak sadar telah membiarkan begitu saja terlaksananya agenda terselubung yang merupakan benih bahaya laten bagi bangsa dan negara Republik Indonesia.

Arus dana ini tidak hanya membiayai gerakan terorisme, tetapi juga penyebaran ideologi dalam usaha wahabisasi global yang nyaris luput dari perhatian publik. Padahal dari sinilah fenomena infiltrasi paham garis keras memperoleh kesempatan, dukungan dan dorongan yang luar biasa kuat sehingga menjadi bisnis yang menguntungkan bagi 'agen'-nya. Gerakan transnasional wahabi memanfa’atkan kesempatan ini di Indonesia dan menyusup kesemua bidang kehidupan bangsa. Mereka berusaha mengubah wajah Islam Indonesia yang santun dan toleran agar seperti wajah mereka yang sombong, garang, kejam, penuh kebencian, dan merasa berhak untuk menguasai. Kekerasan ini bisa kita lihat dalam beberapa aspek seperti, kekerasan doktrinal, tradisi, budaya dan sosiologis. Ancaman terhadap Indonesia, khususnya Islam sunnah waljama’ah, tidak datang dalam bentuk militer, namun dalam bentuk gerakan ideologi garis keras. Pertodollar wahabi yang sangat besar jumlahnya masuk ke Indonesia, dilakukan dengan cara menjual agama, mengabdi pada tujuan wahabi yang sebenarnya; memaksakan ideologi, mendirikan negara khilafah dan menguasai pemerintah.

Jika kemudian di Indonesia ini ada lagi beberapa kelompok yang datang dengan nama yang berbeda, kelompok-kelompok ini sebenarnya masih satu ‘gen’ dengan yang pertama; wahabi sebagai foundingfather-nya. Bagi kelompok-kelompok tersebut, pergerakan diawali karena kesamaan pandangan ideologis, bukan berarti tidak memiliki perbedaan. Untuk saat ini mereka masih bisa bersatu karena merasa menghadapi  musuh yang sama, yaitu umat Islam moderat yang menolak formalisasi agama dan lebih menekankan nilai spiritualitas dan keberagaman substantif. Diyakini kelak, jika kelompok-kelompok ini telah berhasil berkuasa, mereka akan bertikai diantara mereka sendiri untuk merebut kekuasaan yang mutlak, karena masing-masing dari mereka tidak akan lepas dari rasa berhak atas ‘kebenaran’ dan ‘kekuasaan’ tersebut. Bukti konkrit gejala seperti ini sudah terlihat dalam internal kelompok mereka sendiri sehingga saat ini dari satu kelompok terpecah lagi dalam beberapa kelompok. Tidak heran jika sebenarnyanya mereka hanya memperebutkan posisi siapa ‘yang benar’ dan ‘yang berhak’ terhadap politik dan kekuasaan-dengan agama sebagai tumpangannya.

Stephen Sulaiman Schwartz dengan jelas dan meyakinkan, memaparkan aliran dana wahabi dalam usaha-usaha wahabisasi global dan aksi-aksi terorisme internasional yang dilakukan atas nama agama tersebut. Dalam konflik Bosnia, misalnya-dengan dalih membela muslim Bosnia dari ethnic cleansing, wahabi mengambil kesempatan untuk menyebarkan ideologinya dengan membangun infrastruktur pendidikan dan peribadatan hanya sebagai camugflage penyebaran ideologi mereka. (Stephen Sulaiman Schwatrz, ‘The Two Faces of Islam; Saud Fundamentalism and Its Role in Terrorism (2002)).

Maka sejak 30 tahun yang lalu penguasa saudi wahabi telah membelanjakan uang yang mungkin sudah lebih dari USD 90 milyar yang disalurkan melalui Rabithat al’Alam al-Islami, International Islamic Relief Organitation (IIRO), dan yayasan-yayasan lain keseluruh dunia untuk membela diri dan memperbaiki citra mereka melalui wahabisasi global. Di Indonesia, Rabithat al’Alam al-Islami dan IIRO menyalurkan dananya-diantaranya-melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), LIPIA, MMI, Kompak, dan lain-lain.

Pemerintah Saudi sendiri mengakui bahwa hingga tahun 2003 sudah membelanjakan uang sebesar US$ 70 M (baca dalam ‘How Billion in Oil Money Spawned a Global Terror Network’, dalam US News & World Report, 15 Desember 2003).

 

sumber : ILUSI NEGARA ISLAM, LibForAllFondation, 2009

informasi selanjutnya, silahkan dibaca di : http://www.marzukialie.com/?show=resensi&id=5

disini : http://indonesian.irib.ir/islam/index.php?option=com_content&view=article&id=565:pbnu-ada-aliran-wahabi-usir-saja-&catid=26:head-line&Itemid=131

dan disini : http://indonesian.irib.ir/islam/index.php?option=com_content&view=article&id=353

_________________________________________________________

ARTIKEL TERKAIT



 

Copyright 2010 - 1431 H | * ALL ABOUT WAHHABI * | Who Is The Wahhabi Actually | Designed by DS | ASWAJA

© SAY NO TO WAHHABI