BUKU PINTAR BERDEBAT DENGAN WAHABI

Sejak Tahun 2008 M, Tim LBM NU Jember seringkali diminta mengisi pelatihan dan internalisasi ASWAJA di kalangan warga Nahdliyyin di berbagai level. Tidak Jarang, dalam acara-acara tersebut dilakukan debat terbuka dengan mendatangkan tokoh-tokoh Salafi. Dari sekian banyak perdebatan itu, akhirnya penulis tertarik untuk membukukannya dalam buku ini.

Selain itu, buku ini juga memasukkan kisah-kisah perdebatan para ulama dulu dengan kaum Wahabi, seperti dialog terbuka Sayyid Alwi Al-Maliki vs Syaikh Ibn Sa'di di MAsjidil Haram, dialog terbuka Syaikh al-Syanqithi dengan ulama Wahabi tuna netra, dialog al-Hafidz Ahmad al-Ghumari di Makkah al-Mukarramah, dialog Syaikh Salim Alwan vs Dimasyqiyat di Australia, serta kisah-kisah dialog teman-teman yang pernah terlibat langsung dalam sebuah dialog dengan kaum Wahabi, dengan harapan buku ini menjadi panduan dalam berdialog dengan aliran Wahabi yang dewasa ini menamakan dirinya aliran Salafi.
-------------------------------------------------------------

Suatu ketika Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki ( Tokoh Sunni) sedang berhalaqah dengan para muridnya di serambi masjidil Haram. Di bagian lain Ibnu Sa’di ( Tokoh Wahabi) juga sedang duduk-duduk dengan para muridnya. Tiba-tiba air hujan mengguyur dengan deras sehingga saluran air di atas Ka’bah mengalirkan air dengan derasnya. Seperti biasa kaum muslimin segera berhamburan membasahi tubuhnya dengan air tersebut bahkan meminumnya untuk mencari berkah.

Melihat hal tersebut Polisi kerajaan Saudi Arabia terkejut dan mengira bahwa kaum muslimin telah berbuat kemusyrikan. Para Polisi itupun menghardik “ Haram, haram…musyrik...musyrik…! Kaum muslimin bubar dan menuju halaqah Sayid Alwi menanyakan perihal ngalap berkah tersebut. Sayid Alwi membolehkan dan bahkan menganjurkan agar mereka terus melakukannya. Mereka kembali ke Ka’bah dan membasahi tubuhnya dengan air. Bentakan Polisi kerajaan sudah tak dihiraukan lagi. Melihat hal tersebut segera Polisi kerajaan menuju tempatnya Ibnu Sa’di. Mendengar pengaduan Polisi tersebur bergegaslah Ibnu Sa’di menuju halaqahnya Sayid Alwi.

Ia bertanya “ Wahai Sayid, benarkah anda membolehkan mereka mengharap berkah dari air yang mengalir dari Ka’bah?” Sayid Alwi menjawab “ Benar. Mereka mendapat dua keberkahan. Pertama berkah dari langit dan kedua berkah dari Baitullaah. Karena Allah telah berfirman dalam QS. 50 : 9 “ Dan kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah”. Allah juga berfirman dalam QS. 3 : 96 “Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah ( Makkah) yang diberkahi (oleh Allah)”. Mendengar jawaban tersebut Ibnu Sa’di kagum dan berujar, “Subhanallah, bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini ?” akhirnya Ibnu Sa’di segera menuju Ka’bah dan membasahi tubuhnya dengan air. Melihat tindakan tokoh Wahabi ini Polisi kerajaan pergi dengan perasaan malu. Kisah ini disampaikan oleh Syaikh Abdul Fatah Rawah dalam kitab Tsabat. Beliau adalah saksi mata kejadian tersebut.

Di atas adalah secuil kisah yang dituturkan oleh Muhamad Idrus Ramli dalam “ Buku Pintar berdebat dengan Wahabi”. Kyai muda Jember ini tergolong penulis produktif. Ia menempatkan dirinya menjadi salah satu benteng muda dalam membela faham Ahlussunah Wal-Jama’ah. Buku ini merupakan kumpulan pengalaman penulis dan teman-temannya ketika berdebat dengan orang-orang Wahabi (Salafi) yang dengan gampang dan gegabah mengkafirkan sesama muslim.

Secara terperinci Kyai yang alumni Sidogiri ini menguraikan sebelas bab yakni Mencari berkah, Allah maha suci, Bid’ah Hasanah, Otoritas Ulama’, Bukan Ahlussunah, Menurut As-Syathibi, Istighatsah dan tawassul, Cerdas bermadzhab, Tradisi Yasinan dan Permasalahan tradisi. Secara keseluruhan Wahabi dibungkam dengan dalil-dalil naqli dan aqli.

Dalam sebuah diskusi tentang Aswaja di PWNU Jawa Timur, Idrus menyatakan bahwa Wahabi sama dengan Khawarij karena mereka mengkafirkan dan menghalalkan darah golongan selain mereka. Mereka disebut khawarij bukan semata – mata karena melawan kaum muslimin tetapi karena Takfir dan Istihlal dima’ al-Mukhalafin tersebut. Berbeda dengan ‘Aisyah dan Mu’awiyah, meski keduanya juga memerangi Ali bin Abi Thalib tetapi tidak takfir dan istihlal sehingga keduanya bukan khawarij. Dalam kitab Kasyf as-Syubuhat, Muhamad bin Abdul Wahab (Pendiri Wahabi) secara terang benderang me-musyrikkan orang-orang di luar golongannya. Ia menyebut bahwa ulama madzhab empat adalah Syetan karena menyusun ilmu fiqh yang ia katakan syirik. Bahkan pengikut Wahabi yakni Muhamad bin Ahmad Basyamil dengan congkak menyebut bahwa umat islam saat ini lebih musyrik dari pada Abu Jahal dan Abu Lahab (Kaifa Nafhamu al-Tauhid hal.16).

Wahabi selalu mengintai. Ia menyusup ke semua lapisan untuk merusak aqidah dan amaliah kaum muslimin. Belakangan mereka rajin meng-infiltrasi mahasiswa dari kampus-kampus umum untuk dicekoki faham meraka. Dengan jargon standart “ kembali kepada al-Quran dan Hadits” hakikatnya mereka menjauh dari ajaran al-Quran dan Hadits. Ciri-ciri meraka diantaranya adalah : Membid’ahkan amaliah muslimin bahkan memusyrikkannya dan menghujat para kyai ( ulama).

Mengingat pentingnya buku ini, saya rasa setiap orang harus memilikinya sebagai bahan untuk membentengi diri dengan argumentasi-argumentasi untuk mematahkan pendapat di kalangan salafi wahabi yang dewasa ini menamakan dirinya salafi. Buku ini bisa menjadi panduan dalam berdialog dengan mereka. Oleh karena itu pula ebook dalam bentuk PDF ini diterbitkan semata-mata hanya karena ingin membuat orang lain lebih tahu banyak tentang isi buku ini, sebagai bahan ‘preview’ sebelum membeli, untuk selanjutnya diharapkan membeli buku aslinya di toko-toko buku terdekat atau melalui online.

Silahkan download ebook (PDF)-nya disini atau disini atau dengan meng-klik gambar bukunya.

Semoga bermanfa’at !

_________________________________________________________

ARTIKEL TERKAIT



 

Copyright 2010 - 1431 H | * ALL ABOUT WAHHABI * | Who Is The Wahhabi Actually | Designed by DS | ASWAJA

© SAY NO TO WAHHABI